.
MacauHub - 2011-02-09
Dili, Timor, 9 Fev - O Índice de Preços no Consumidor (IPC) de Timor-Leste registou um aumento de 8,0 por cento no último trimestre de 2010 relativamente ao período homólogo de 2009, informou em Dili a Direcção Nacional de Estatística.
Aquela evolução decorreu, principalmente, dos aumentos registados nos preços dos produtos das classes Alimentação (mais 10,3 por cento), Vestuário e Calçado (7,3 por cento), Habitação (6,2 por cento), Saúde (4,5 por cento) e Transportes e Comunicações (4,4 por cento).
Relativamente ao trimestre terminado em Setembro, o IPC dos últimos tres meses do ano registou um aumento de 4,1 por cento, tendo os principais agravamentos dos preços ocorrido nas classes Alimentação (5,4 por cento), Vestuário e Calçado (5,1 por cento) e Álcool e Tabaco (2,5 por cento). (macauhub)
.

MacauHub - 2011-02-09
Dili, Timor, 9 Fev - O Índice de Preços no Consumidor (IPC) de Timor-Leste registou um aumento de 8,0 por cento no último trimestre de 2010 relativamente ao período homólogo de 2009, informou em Dili a Direcção Nacional de Estatística.
Aquela evolução decorreu, principalmente, dos aumentos registados nos preços dos produtos das classes Alimentação (mais 10,3 por cento), Vestuário e Calçado (7,3 por cento), Habitação (6,2 por cento), Saúde (4,5 por cento) e Transportes e Comunicações (4,4 por cento).
Relativamente ao trimestre terminado em Setembro, o IPC dos últimos tres meses do ano registou um aumento de 4,1 por cento, tendo os principais agravamentos dos preços ocorrido nas classes Alimentação (5,4 por cento), Vestuário e Calçado (5,1 por cento) e Álcool e Tabaco (2,5 por cento). (macauhub)
.

4 comentários:
http://parmadim.com/
Kritik terhadap kondisi pertumbuhan ekonomi negara Indonesia. Relevan utk diketahui oleh negara tetangga seperti Timor Leste.
---------------------------------
KETIKA RUPIAH KIAN PERKASA. What does it mean for poor people?
Kalau rupiah dibilang perkasa itu nilainya berapa sih? Apa Rp. 9.500 sama dengan USD $1 dollar dibilang perkasa?
Apa sudah lupa tahun 1970’s USD $1 sama nilainya dengan Rp.400 dan ditahun 1980’s USD $1 sama dengan Rp.650. Sekarang ditahun 2010, USD $1 sama dengan Rp.9.500 dibialng PERKASA. Yang perkasa apanya?
Investasi asing…??
Dari pernyataan Sri Mulyani di media masa baik Koran dan eletronik, mengatakan bahwasanya economic growth 4% dan neraca keuangan Indonesia saat ini adalah yang paling sehat nomer # 3 didunia setelah China dan India.
Bahkan ditahun 2010 ini, ekonomi growth Indonesia diproyeksikan akan mencapai 5.7%. Terus apa artinya ekonomi growth 5.7% yang di trigger dari bludaknya investasi asing, tapi sektor riil dalam negeri macet dan mati karena tidak diurusi?
Apa artinya ekonomi growth 5.7%, bila tidak mampu merubah wajah kemiskinan dan penggaguran di Indonesia yang jumlahnya jutaan orang?
Kalau dilihat dari balance sheet (hitam diatas putih), memang benar. Tapi bagaimana economic growth itu dicapai dan bagaimana balance sheet itu dibuat?
Benarkah balance sheet Indonesia itu sesehat seperti apa yang Sri Mulyani klaim?
Indonesia hingga saat ini memang masih memerlukan investasi asing, tanpa investasi asing roda perekonomian dan pembangunan di Indonesia bisa tidak berjalan.
Kebijaksanaan Sri Mulyani sebagai MENKEU sangat difokuskan ke arah ini (Foreign Investment Driven) dan Indonesia bisa keluar dari krisis ekonomi di ASIA tahun 1998 karena Sri Mulyani berhasil meyakinkan perusahaan asing untuk menginvestasi ke Indonesia.
Hal itu bisa dilihat dari keberhasilan Sri Mulyani menjual semacam surat utang negara yang disebut Global Bond and Global Sukuk dan berhasil mendapatkan investasi asing sebesar $4 billion. Uang $4 billion itu jumlah yang sangat significant untuk Indonesia.
Para economist tahu bahwasanya bila investasi asing yang jumlahnya billion dollar disuntikan ke dalam negeri, sudah barang tentu akan menciptakan economic growth. Is it good or bad?
........... lihat di
http://parmadim.com/
5 Masalah Yang Masih Harus di Selesaikan Oleh Presiden SBY
Kalau Presiden SBY tidak bisa menyelesaikan 5 masalah di bawah ini, TIDAK ada yang istimewa dari Kepresidenan SBY selama 2 periode.
*
With the recent show down between President SBY and the King of Jogya, Hamengkubuwono X, many Indonesian people these days are beginning to doubt and pessimist whether Indonesia will ever find great leaders such as: President Soekarno or, Hamenkubuwono IX.
*
These groups of people often times call themselves as being GOLPUT, which stands for golongan putus asa (giving up/hopeless) and also golongan putih (a citizen who thinks that his/her vote does not matter. For that matter, they do not bother to vote.
*
The answer is definitely yes, there is. There are many younger generations of Indonesia who have the capacity, ability and vision as great as those past leaders, such as Soekarno and HB IX that have not yet been known and recognized by history. The time will come that those future leaders of Indonesia will do better and greater than those past leaders.
*
Indonesia was a great country in the past and will be a great country in the future. Indonesia was able to generate great leader and still is today. But those new leaders have not yet being recognized by history as they have not yet taken a leadership role. As democracy keeps marching in Indonesia, the time will come sooner than later. The wind of change is coming to Indonesia!
*
Keep this in mind! In the past, only about 10% of Indonesian people were well-educated and brilliants and the rest about 90% were illiterate. Now is the opposite. Many new generation of Indonesia are well-educated and many of them are graduated from overseas.
*
The 1st problem is that those younger generations have not yet been given much of field experience and exposure in public office and been given much needed opportunities to serve the public to make a change, dramatic change in Indonesia.
*
The 2nd problem is that the old greedy and corrupt generations of remnant ORDE BARU are still running the country. Those corrupt mentalities have penetrated in almost all fabrics of Indonesian society across the board and it is hard to get rid off these bad habits. Those people are still blind-sided with wealth and greediness. That is why we don’t see any great leader as great as President Soekarno or HB IX during this era of reformation.
*
The 3rd problem is that whatever left today in this era of reformation government is majority still the remnants of ORDE BARU that must be reformed and changed. Those critical and much needed reformations have not yet being undertaken or happening in Indonesia.
*
Just ask this question to yourself:
*
What has President SBY done that is significant enough in Indonesia during his 6 (six straight years) in office being President?
*
On August 26th, 2008 I wrote 14 pages open letter to Indonesian politicians on the need of Presidential public debates that was republished by several Indonesian media. Below is one of them:
....................... go to »
http://parmadim.com
Salam jumpa kaka dong di Dili,
BETA MAU TANGGAPI KOMENTAR DIATAS:
SARAN ANDA INI BAIK, TETAPI JANGAN SAMAKAN KEADAAN EKONOMI DI INDONESIA DGN SITUASI EKONOMI DI TIMOR LESTE SEBAB TL ADALAH NEGARA KECIL DGN JLH PNDUDUK 1,2 JUTA JIWA MEMILIKI PERSOALAN EKONOMI TIDAK SEBESAR YG DI HADAPI OLEH INDONESIA.
NAMUN, PERLU DIAKUI BAHWA PERUBAHAN KEADAAN EKONOMI DI INDONESIA BERPENGARUH LANSUNG TERHADAP RODA PER-EKONOMIAN DI TL. OLEH KARENA ITU, MEMBINA KERJA SAMA DAN HUBUNGAN BAIK DGN INDONESIA ADALAH SANGAT PENTING.
Sorry, kalo jawaban saya sdh tepat.
Salam ba imi mak iha TL
http://www.beritaindonesia.co.id/berita-utama/miskin-dan-berutang-hingga-kiamat-tiba/all
INDONESIA.
Miskin dan Berutang Hingga Kiamat Tiba
Berutang untuk mengentaskan kemiskinan (memakmurkan rakyat). Benarkah? Atau hal itu hanya slogan! Kenyataan, utang kita (pemerintah Indonesia), baik utang luar negeri maupun dalam negeri, dari tahun ke tahun semakin membesar, dan kemiskinan pun masih terus membelenggu rakyat. Ditambah lagi beban utang luar negeri swasta yang semakin besar. Tampaknya, Indonesia telah masuk dalam perangkap utang permanen (permanent debt trap), yang memungkinkan Indonesia akan tetap miskin (permanent poor) dan berutang hingga kiamat tiba.
Rakyat diajak untuk bersabar, mengencangkan ikat pinggang. Pembangunan memerlukan waktu, bertahap dan jangka panjang. Membangun, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, pertanyaannya, berapa lama jangka panjang itu dan seberapa ketat ikat pinggang itu? Jangan-jangan saking lamanya jangka panjang itu, semua rakyat miskin sudah mati, serta saking ketatnya ikat pinggang, hingga rakyat miskin sudah tidak lagi punya pinggang.
Dalam kaitan ini, berangkali relevan dikutip apa yang dikemukakan John Maynard Keynes (Cambridge, 5 Juni 1883 - Sussex, 21 April 1946) seorang ahli ekonomi Inggris yang melontarkan ide-ide radikal dan berdampak luas pada ilmu ekonomi modern serta pemikiran dan filsafatnya biasa disebut dengan istilah Keynesianisme. Keynes mengatakan the long run is a misleading guide to current affairs. (Jangka panjang adalah panduan menyesatkan untuk urusan saat ini). Sebab menurutnya, in the long run we are all dead. (Dalam jangka panjang kita semua sudah mati).
Bisa saja pernyataan Keynes ini dipandang mengandung kelakar. Tetapi jika melihat kebijakan pemerintah yang menjanjikan pembangunan jangka panjang dan selalu mengejar angka dan persentasi laju pertumbuhan dengan mengandalkan utang seperti terjadi hingga saat ini, sampai kapan pun rakyat Indonesia akan dibelenggu kemiskinan. Atau, setidaknya, mustahil si pengutang lebih kaya dari pemberi utang, jika kebijakan utang-piutang itu dilakukan seperti selama ini.
Dalam pandangan pemerintah, sebagaimana dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan RI, perihal Perkembangan Utang Negara, Edisi Juni 2010, disebutkan utang merupakan bagian dari Kebijakan Fiskal (APBN) yang menjadi bagian dari Kebijakan Pengelolaan Ekonomi secara keseluruhan, yang bertujuan menciptakan kemakmuran rakyat dalam bentuk penciptaan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, dan menguatkan pertumbuhan ekonomi, serta menciptakan keamanan.
Utang, katanya, adalah konsekuensi dari postur APBN (yang mengalami defisit), dimana penerimaan negara lebih kecil daripada belanja negara. Pemerintah berpandangan, pembiayaan APBN melalui utang merupakan bagian dari pengelolaan keuangan negara yang lazim dilakukan oleh suatu negara. Di mana utang merupakan instrumen utama pembiayaan APBN untuk menutup defisit APBN, dan untuk membayar kembali utang yang jatuh tempo (debt refinancing); serta refinancing dilakukan dengan terms & conditions (biaya dan risiko) utang baru yang lebih baik.
Penjelasan pemerintah ini, secara sengaja atau tidak, mengakui bahwa Indonesia telah terjebak dalam perangkap utang permanen. Gali lobang untuk menutup lobang. Utang untuk menutupi defisit anggaran serta membayar cicilan utang dan bunganya. Sehingga tujuan kebijakan pengelolaan ekonomi untuk menciptakan kemakmuran rakyat sering kali menjadi bukan prioritas utama.
Bandingkan dengan garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Bank Dunia USD 2 per kapita per hari. Jika Indonesia menggunakan garis kemiskinan USD 2 per kapita per hari atau Rp. 552.000 per bulan (kurs Rp.9.200/USD 1), maka jumlah orang miskin di Indonesia lebih 90 juta orang.
Enviar um comentário